Hallo semuanya, ini adalah kisahku tentang bagaimana aku bangkit dari terpurukku. Aku adalah anak pertama dari tiga saudara tumbuh seperti anak-anak lainnya berlari, bermain dan tertawa bersama teman sebayanya. Semua hal berjalan normal aku menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya namun semua berubah saat aku masuk SD.
Tak nyaman, itulah kesan pertama yang aku dapatkan, aku tak mengenal satu orangpun di dalam kelasku, ya mungkin sebagian dari kalian ada yang juga seperti diriku namun merasa hal itu adalah hal biasa, tapi bagiku itu adalah hal baru dan aku merasa tak menyukainya karena jujur saja aku tak mudah beradaptasi di tempat baru tanpa seorang pun mengenalku ataupun ku kenal. Aku pindahan dari kota lain jadi tak ada satu orang pun yang kukenal sementara teman-teman sekelasku kebanyakan sudah memiliki teman entah tetangga atau teman semasa TK aku merasa berbeda dan asing aku minder. Saat jam istirahat aku menunggu sepupuku keluar istirahat saat itu sepupuku berada di kelas 2 hal itu berlaku hingga beberapa Minggu, ya selama beberapa Minggu itu aku tak mempunyai teman di kelas sampai akhirnya guru wali kelas ku memberikan teman sebangku untukku, temanku ceria ia mengajakku bicara dan bermain ia adalah teman pertamaku, hingga saat ini masih menjadi temanku.
Hari-hariku berjalan normal dan menyenangkan semenjak aku punya teman tapi ada beberapa hal yang menggangguku, beberapa teman laki-laki di kelasku mengataiku dengan hal-hal yang tak kusukai ya walaupun beberapa hal yang mereka katakan benar tapi aku tetap merasa tak suka bagaimana bisa mereka terus menggangguku, mengejekku sementara aku tak pernah membuat masalah atau mengganggu mereka itulah pemikirannya saat itu. Hal-hal itu terus terjadi bahkan sampai kakak kelas yang tak kutahu namanyapun mulai mengataiku, aku sedih, aku hanya anak yang belum genap 6 tahun saat itu. Mereka terus saja melakukan itu mengataiku bahkan ada teman yang badannya lebih besar dariku pernah menyenggol ku hingga masuk parit, hah seperti sinetron saat aku mengenang hal itu. Hal-hal tak mengenakkan yang mereka lakukan padaku terus saja terjadi dan akupun membiarkannya karena saat itu aku berfikir mereka akan bosan sendiri tapi ternyata aku salah mereka terus melakukannya hingga aku lulus dan hal itu membentuk diriku menjadi pribadi yang tak percaya diri. Untuk kalian yang mendapatkan perlakuan sepertiku jangan diam seperti yang aku lakukan karena diam hanya akan memperburuk keadaan dan menyakiti kalian.
Saat aku MTs aku mendapatkan perlakuan yang hampir serupa hanya saja ini lebih parah dan berasal dari kakak dan adik kelasku, saat itu teman-teman sekelah ku adalah orang yang baik dan aku bersyukur akan hal itu. Mereka tak pernah menghinaku atau memilaiku dari segi fisik aku bahkan memiliki beberapa teman dekat, namun bully-an dari kakak dan adik kelasku tetap saja menyakitiku. Mereka sering menuliskan ejekan-ejekan di meja tempat dudukku atau buku yang tak sengaja ku tinggalkan di kelas, saat itu bukan aku saja yang mereka perlakukan tapi juga satu orang temanku. Karena merasa senasib aku berteman baik dengannya melakukan hal-hal menyenangkan dan saling menguatkan. Sampai suatu hari ku lihat temanku menangis karena tak tahan dengan ejekan mereka aku juga menangis saat itu, aku merasa dunia tak adil, ya sedikit lebay mungkin menurut kalian tapi kalian akan berpendapat berbeda jika kalianlah yang mengalaminya. Kami sama-sama manusia tapi kenapa mereka memperlakukanku berbeda. Selain bahan ejekan mereka, aku juga anak berharga Ayah dan Ibuku, aku adalah kakak yang merupakan kebanggaan adikku, apa hak mereka menilaiku fisikku,mencela kekuranganku memangnya ada orang yang ingin dilahirkan dengan kekurangan.
Aku terus saja menerima bully-an sampai aku lulus MTs tapi saat itu aku sudah sedikit lebih kuat. Aku tak pernah lagi memikirkan ataupun memperdulikan ejekan mereka tapi bukan berarti aku menerima saja seperti saat aku SD aku diam karena aku memang tak perduli, kata salah seorang senior ku orang-orang seperti mereka akan selalu ada di manapun aku berada dan jika aku merasa terluka untuk hal-hal bodoh yang mereka lakukan maka akan sampai kapan aku terluka dan minder.
Saat MA aku mulai mulai membuka diri dan aku juga mendapat teman-teman sekelas yang baik tak ada lagi bully-an yang kuterima akan tetapi trauma itu seperti bayangan aku tetap tak percaya diri sampai saat aku kelas 2 MA saat libur semester aku membaca sebuah webtoon berjudul spirit fingers (bukan endorse) bukan seperti webtoon lainnya yang peran utamanya adalah seorang yang yang superior dalam webtoon ini pemeran utamanya adalah seorang gadis yang memiliki banyak kekurangan dan tidak percaya diri tapi ia memiliki teman-teman yang baik, karakter ini mengingatkan ku pada diriku sendiri aku mulai mengikuti cara-cara yang diajarkan oleh teman-teman pemeran utama dalam webtoon ini, ya aku mengucapkan aku keren, aku keren sambil menatap kaca kepada diriku sendiri, mengucapkan terimakasih pada diri sendiri dan mencintai apapun yang ada dalam diriku sendiri. Kebiasaan mengucapkan aku keren bahkan masih kulakukan hingga saat ini terlebih saat aku gugup saat bicara di depan umum. Saat ini aku merasa bahagia dengan apa yang kumiliki segala kekuranganku ataupun ejekan dari orang lain tak lagi mempengaruhi ku, dan aku mencintai diriku saat ini. Satu langkah untuk bangkit adalah percaya pada dirimu sendiri dan cintai juga dirimu sendiri. Jangan pernah juga jadikan patokan perasaanmu untuk semua orang karena beda cangkang akan beda pula isinya, bahkan batu yang kau lempar sembarangan ke arah kolam dapat membunuh katak di dalam kolam.
Sampai jumpa lagi terimakasih sudah membaca.